Secarik Kertas Harapan


Harapan adalah sesuatu yang membuat kita bisa berharap dan ingin harapan itu bisa terwujud. Namun, jika harapan itu sirna. Apakah harapan sebelumnya bisa kembali lagi? Sedangkan masa depan selalu berputar di depan mata. Harapan bagai secarik kertas putih yang teruntai oleh impian. Apabila kertas putih itu tercoreng oleh rangkaian rasa sakit di dalamnya. Apa masih bisa kembali seperti dulu? Jelas tidak, kertas itu tidak akan pernah berwarna putih kembali. 

Semakin jauh pengharapan itu, maka rasa sakit semakin menepi. Saat pengharapan itu kian pergi, hati terasa seperti terpanah oleh  pedihnya pengharapan. Rasa sakit itu, perih rasanya. Namun jika terus menatap sisi pahitnya, pedihnya pengharapan itu akan selalu mengitari kehidupan kita. Hingga membuat diri kita sendiri tak mampu meredamnya.

Ketika harapan itu tumbuh, dunia ini seakan menembus hampa nya kesunyian hati. Tapi apalah daya, jikalau harapan itu tak seelok kenyataan. Kepiluan seakan merajut isi hati, kesedihan perlahan mengukir suramnya harapan yang pupus. Lantas, jika semuanya sudah terjadi? Apa kita harus terjerat dalam zona kesedihan atas hilangnya harapan? Tentu tidak. 

Semangat hidup dapat memperjuangkan dan membangkitkan diri ini menjadi sosok yang lebih cerah dari sebelumnya Tersenyumlah, Allah akan selalu ada dimanapun kamu berada. Di dalam kepedihan harapan, ada petikan hikmah yang dapat dipelajari. 
Pertama yaitu, dengan rasa sakit yang membuat kita menoleh ke belakang. Disitu pula kita tersadar bahwa, berharap kepada sesuatu tanpa melintasi Allah di jalannya hanya akan menciptakan rasa kecewa dan sedih. 
Kedua, seberapa pun titik pengharapan itu muncul. Jadikan itu bukan sebagai hadiah, tapi jadikan itu sebagai ujian. Ujian kita untuk bersabar dalam meraih harapan itu. Sehingga, bila harapan tak kunjung dalam genggaman, harapan tersebut tidak akan mudah melukai hati. Terakhir yaitu, jatuhnya hati kita dengan segelintirnya harapan, dapat menjadikan kita sebagai orang yang lebih kuat dan tak kenal menyerah. Karena harapan bisa kita ambil kapan saja, bergantung bagaimana caranya kita berharap. Apa berharap dengan cara menyertakan Allah dalam do'a ? atau berharap hanya untuk keegoisan semata ? .

Harapan boleh saja gugur, namun hati harus tetap bertahan. Harapan boleh saja diraih, tapi disamping pengharapan itu, musnahkan rasa berlebihan untuk menggapainya. Agar rasa kecewa tak menghampiri. Harapan boleh saja dikejar, tapi ingatlah, kejar harapan itu dengan keridhoan Allah Swt. 

Harapan, biarkanlah diri ini menggapaimu tanpa menyertai rasa ambisi yang berlebih. Jadikan Allah sebagai arah yang bisa membuka mata hati kami, supaya pengharapan itu tak sanggup menyakiti kami kembali, Aamiin..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Yang Terketuk, Namun Masih Terkunci

ANALISIS JURNAL MANAJEMEN PEMASARAN

Menghapus Rasa Iri