Ketukan Suara Pintu Hati


Ketukan suara hati itu bisa sampai ke pintu hatinya bukanlah hal yang mudah. Diperlukan power yang lebih untuk bisa menembus pintu hatinya. Terutama menembus ruang hati nya yang kini telah lama usang. 

Maksud dari kata - kata saya itu adalah hidayah. Tak semudah itu, hidayah mampu mengetuk pintu hati siapapun walaupun telah patah ataupun rusak. Hidayah bisa diambil siapapun, kapanpun dan dimanapun. Namun, hidayah tak semudah itu mampu menembus ruang hati manusia. 

Hidayah bagaikan angin yang terhembus kencang di hadapan kita. Ketika hidayah itu datang menghampiri, apa kita hanya diam? Tidak. Sambutlah hidayah itu dengan manis dan membiarkan hidayah mengetuk pintu hati kita. 
Jikalau sudah terketuk, biarkan hidayah itu tembus ke lorong - lorong ruang hati yang paling dalam. Supaya hati kecil itu bisa mendengar suara ketukannya.

Hati yang berkondisi kosong, usang dan berdebu. Yup, Kelihatannya memang seperti itu. Tapi, seiring berjalannya waktu, hati itu akan terus beradaptasi dengan hadirnya hidayah. 

Jangan menunggu hidayah datang, Kalau bisa datang & temui hidayah tersebut. Ambil hidayah itu sebagai pelengkap keimanan & ketaqwaan kepada Allah. Raih hidayah itu sebagai ladang pahala untuk berada dalam dekapan Allah Swt. Jadikan hidayah itu sebagai suara hati, supaya hidayah selalu menyempatkan dirinya untuk mengetuk pintu - pintu hati orang - orang yang beriman. 

Jangan pernah puas dengan tingkat keimananmu. Karena hidayah adalah asupan bagi seorang muslim. Supaya kita bisa terus perlahan memperbaiki diri ke arah lebih baik dan tetap berada dalam zona Allah Swt. Lingkari hati kita selalu dengan kehadiran hidayah yang sengaja datang untuk mengetuk pintu hati kita. 

Hati akan bersuara lembut & merdu jika teriringi hidayah sebagai nada di dalamnya. Memetik & mendengar perkataan dan perbuatan baik. Bukan hanya mendengarkan, tapi memahaminya, menerimanya serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari - hari. Dengan diterimanya hidayah tersebut, hati akan merasa tenang, tentram dan damai. Obati kehancuran hatimu, dengan datangnya hidayah. Istiqomahkanlah hatimu dengan hidayah yang berjatuhan di depan mata. 

Karena bila hati ikhlas menerima datangnya hidayah, kebutaan terhadap dunia dapat terganti dengan manisnya nikmat iman & taqwa. Allah Swt menaburkan hidayah dimanapun, baik melalui perantara manusia ataupun langsung di depan mata kita. Tapi apakah hidayah itu bisa diambil begitu saja ? Tidak juga. Itu semua bergantung pada hati mereka masing - masing. Apakah pintu hati tersebut telah diketuk ataukah memang belum pernah diketuk. Ataukah mungkin pintu hati itu sudah lama terketuk tapi tidak siap membukanya atau mungkin kita belum sadar dan belum ingin hidayah itu mendekati ruang hati kita. Untuk kamu yang pintu hatinya belum terketuk dengan datangnya hidayah, Tetap yakinlah, hanya Allah yang mengetahui isi hati manusia. Sadarkan diri kamu apa kamu tidak ingin mengambil hidayah tersebut? Padahal itu baik sekali untukmu. 

Hidayah bagai butiran debu yang tertiup di pandangan mata kita. Memang kedatangannya bisa secara tiba - tiba. Namun, hidayah mampu menghangatkan ruang hati bagi hati yang belum pernah didatangi dirinya. Ketukan dari hidayah tersebut, mampu melepaskan kebutaan seseorang terhadap kesalahan yang dia perbuat. Jangan pernah sekali - kali menutup pintu hatimu saat hidayah datang. Buka mata hatimu perlahan atas hadirnya hidayah di depan mata. 

Hidayah, hampiri ruang hati ini selalu. Ketuklah sekencang mungkin pintu hati ini, agar hati ini tak pernah berhenti mengarungi samudra kebaikan, Aamiin.. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Yang Terketuk, Namun Masih Terkunci

ANALISIS JURNAL MANAJEMEN PEMASARAN

Menghapus Rasa Iri