GENERASI RABBANI

            GENERASI RABBANI 

   PEMBAWA CAHAYA KEBAIKAN



Jikalau kita memandang dunia ini layaknya biskuit coklat. Pada nyatanya, dunia ini dilengkapi oleh generasi pemuda Muslim yang menjadi pelapisnya. Tapi, Apakah hanya menjadi pelapis? Tidak. Generasi pemuda Muslim bukan hanya bisa menjadi pelapis biskuitnya saja, namun bisa juga menjadi selimut biskuitnya yang menjadikan dakwah sebagai selai coklatnya. Sehingga selai coklat itu dapat dinimakti oleh siapa saja. Layaknya dakwah. 


Seperti yang kita ketahui, pemuda Muslim memiliki cita – cita, visi dan misi untuk menyinari agamanya, yaitu agama Islam. Bukan hanya menyinari, tetapi menyilaukan agama Islam layaknya cahaya berlian. Dia bersinar dan berkilau menampakkan cahaya keindahannya  yang dapat dinikmati oleh pelosok mata manusia yang melihatnya. Agama Islam akan bersinar dengan kemuliaan akhlak pemuda Muslim. Terlintas difikiran saya, bahwa

 “Tingkat keimanan seseorang bukan hanya terukur dari ibadah yang dia kerjakan, tapi keikhlasan dia dalam menjalankan ibadahnya,"

Rasa damai & tenang dapat tumbuh pada seseorang yang Ikhlas. Jalan dakwah akan mengalir dengan semestinya, apabila yang berdakwah tersebut menjalaninya ikhlas memang untuk mengharapkan ridho Allah Swt semata.  Ikhlas menjalankan ibadah pasti disertai dengan akhlakul kharimah yang dimiliki pemuda muslim. Jika pemuda Muslim mengiringi langkah dakwahnya dengan akhlak sebagai alunannya. InsyaAllah, jalan yang gelap gulita pun dapat ditembus olehnya. 


Baik dan buruknya suatu bangsa atau wilayah ke depannya tergantung generasi pemudanya saat kini. Terkadang timbul rasa keraguan kita untuk bisa menyampaikan kebenaran tentang agama Islam. Kebenaran itu seperti layaknya sang surya, akan terlihat walaupun oleh orang buta sekalipun. Penegasan itulah yang harus ditanamkan oleh generasi Rabbani supaya tetap berjuang dalam dakwahnya dan terus berani menyampaikan kebenaran yang bersumber langsung dari Al qur’an. 


Generasi Rabbani memanglah harus dipertahankan. Baik dari segi akhlaknya maupun kecerdasannya.  Karena Generasi Rabbani adalah palang utama agama Islam untuk bisa menjadikan peradaban islam lebih baik lagi. Melestarikan dan memanfaatkan ilmu agama Islam yang diperoleh sebaik mungkin untuk kepentingan masyarakat Muslim di dunia ini. Generasi Rabbani dapat berkontribusi dalam kegiatan – kegiatan positif yang menunjang kelangsungan hidup di dunia. Menjadi contoh yang baik bagi umat yang lainnya. Di dunia ini terdapat milyaran manusia yang masih terjebak dalam gelapnya dunia. Oleh karena itu, generasi Rabbani bergerak untuk membatu menemukan titik terang yang menjadi cahaya kehidupan manusia, yaitu bersyi’ar dan berdakwah. Dengan keberaniannya, mereka dapat memacarkan senyum manisnya melewati ukhuwah dan rasa solidaritas yang kuat. Bukan hanya itu, generasi Rabbani harus bisa menahan keegoannya dalam berdakwah dan bersyi’ar. Sehingga rasa empati mereka dapat tertuang dalam kegiatan positif yang mereka lakukan. 


Muslim yang tangguh ialah seorang yang memilki potensi dan mampu meluapkan segala gagasan, ide maupun pendapat untuk menyelesaikan permasalahan yang dialami oleh muslim lainnya.  Terutama dalam organisasi islam. Dari penglihatan saya, kondisi generasi pemuda muslim saat ini, masih terlihat ada sedikit kekurangannya yaitu kurang cerdas dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan agama islam. Rendahnya rasa ingin tahu serta minimnya rasa kritis mereka terhadap agama Islam. Mereka hanya beribadah dan belajar sepenuhnya. Itu yang menjadi pe-er bagi para generasi Muslim agar berubah lebih baik lagi ke depannya, terutama generasi Rabbani yang berperan penting untuk menyiarkan segala pengetahuan tentang agama Islam yang mereka miliki. 


Selain itu, generasi Rabbani senantiasa berpegang pada dasar agama Islam, yaitu Al qur’an & Sunnah. Senantiasa fleksibel terhadap perkembangan zaman & modernisasi. Fleksibel, namun tetap kokoh memegang dasar agama Islam. Menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri tauladan untuk membangkitkan dan mendorong perjuangan Islam saat kini untuk menciptakan agama Islam yang seutuhnya. Mampu menyelimuti dirinya dengan keistiqomahannya dalam berjihad di jalan Allah Swt. Dengan memenuhi segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.  “ Sami’na wa atho‘na “ . Kami dengar dan kami taat, itulah yang perlu dijadikan pegangan bagi para generasi Rabbani dalam mengarungi proses dakwahnya. 


Seiring berkembangnya teknologi membuat zaman kini dapat diwarnai kehidupan menjadi serba online dan pastinya update. Adanya internet dan sosial media membuat masyarakat menjadi gesit dalam memperoleh informasi. Inilah yang menjadi batu asah bagi generasi Rabbani. Yup, batu asah. Saya sebut sebagai  batu asah karena adanya teknologi dapat mengasah tajam ilmu pengetahuan generasi Rabbani lebih baik lagi. Memanfaatkan teknologi untuk sarana berdakwah. Membuka peluang pemuda Muslim untuk berhijrah bersama lewat sosial media. Memposting sumber – sumber dakwah yang sesuai syari’at islam, Al – qur’an & Sunnah lewat sosial media. Menebarkan kebaikan melewati kajian online yang dapat mempersatukan umat Islam yang satu dengan yang lainnya. 


Apa yang saya tulis di essay ini, memanglah tidak mudah dilakukan. Dibutuhkan power yang lebih kuat lagi untuk bisa mempertahankan generasi Rabbani. Menerangkan seluruh pemuda Muslim menuju kebaikan. Membuka satu per satu jendela kehidupan yang lebih baik bukanlah hal yang mudah. Menyelamatkan pemuda Muslim yang terhanyut dalam arus yang salah bukanlah hal yang mudah juga. Namun, itulah yang menjadi tugas generasi Rabbani untuk memperbaiki peradaban Islam kini. Kondisi masa kini, pemuda Muslimnya terlihat mudah tenggelam dalam lautan maksiat, meninggalkan bekas dan jejak ketidaktahuan mereka tentang agama Islam. Kefuturan seseorang dalam sangkar keistiqomahannya. Serta minimnya rasa empati terhadap sesama umat. Mengajarkan generasi Rabbani untuk menjadi pribadi lebih baik lagi, kembali memupuk rasa semangatnya dalam samudra dakwah yang mereka arungi. Niat karena Allah Swt untuk mengharapkan ridho-Nya dan syurga-Nya. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hati Yang Terketuk, Namun Masih Terkunci

ANALISIS JURNAL MANAJEMEN PEMASARAN

Menghapus Rasa Iri